Aku tahu ada yang salah sejak ia menyebut nama anakku.

Bukan karena tidak mungkin ia tahu. Kompleks perumahan ini kecil, orang-orang saling kenal, dan Danin sering bermain di luar. Tapi cara ia menyebutkan nama itu — santai, tanpa jeda, seperti bukan informasi baru tapi fakta yang sudah lama ia simpan — membuat tengkukku meremang.

"Istri Pak Farel, ya? Dan Danin sudah kelas berapa sekarang?"

Aku berdiri di depan rumah dengan kantong belanjaan di kedua tangan. Pria itu baru saja keluar dari nomor 17 — rumah yang sudah kosong delapan bulan dan baru minggu lalu terlihat ada aktivitas pindahan, truk yang datang sore-sore dan beberapa kardus yang diturunkan tanpa banyak suara.

Aku tidak tahu siapa dia. Aku belum pernah melihat wajahnya. Tapi dia tahu nama suamiku, nama anakku, dan entah bagaimana sudah menyimpulkan bahwa aku adalah istri dari orang yang ia sebut.

"Kelas tiga," jawabku.

Refleks. Belum sempat berpikir.

Pria itu tersenyum. Senyum yang lebar, yang membuat matanya sedikit menyempit, yang pada wajah orang lain mungkin terlihat hangat. Tapi ada sesuatu di senyum itu yang tidak sampai ke matanya — seperti ekspresi yang dipelajari, bukan yang muncul sendiri.

"Wah, sudah besar, ya. Cepat sekali waktu berlalu." Ia mengangguk-angguk, seolah ia sendiri yang menyaksikan Danin tumbuh besar. "Saya Aldo. Baru pindah minggu lalu. Senang akhirnya bisa kenalan dengan tetangga."

"Hana," kataku pendek.

Kami berjabat tangan. Tangannya dingin untuk cuaca sesiang ini — dingin yang terasa janggal di bawah matahari pukul satu yang menyengat.

"Kalau ada yang bisa dibantu, jangan sungkan, ya, Bu Hana." Ia mengangguk sekali lagi, sopan, lalu masuk ke dalam nomor 17 dan menutup pintu dengan pelan.

Aku berdiri di jalan setapak selama beberapa detik.

Mencoba memutar ulang percakapan itu di kepala.

Dan baru sadar bahwa sepanjang percakapan tadi, aku tidak pernah sekalipun menyebut nama suamiku. Ia yang menyebutnya duluan — "Istri Pak Farel, ya?" — sebelum aku sempat mengatakan apapun tentang diriku.

---

Aku masuk ke rumah dan mengunci pintu.

Kebiasaan. Sejak Danin lahir, mengunci pintu adalah refleks yang tidak pernah aku lewatkan. Farel bahkan pernah bercanda bahwa aku terlalu paranoid soal keamanan — kompleks ini aman, katanya, ada satpam di gerbang, tetangganya semua orang baik-baik.

Aku tidak langsung memikirkan Pak Aldo terlalu serius.

Aku menaruh belanjaan di dapur, mengeluarkan isinya satu per satu, menyimpan telur di kulkas dan sayuran di laci bawah. Aktivitas yang biasa, yang rutin, yang seharusnya menenangkan.

Tapi pikiranku terus kembali ke percakapan tadi.

Pak Aldo tahu nama Farel. Pak Aldo tahu nama Danin. Pak Aldo tahu Danin sudah cukup besar untuk berkata "sudah besar, ya" — yang artinya ia entah bagaimana punya gambaran tentang Danin dari sebelumnya, bukan baru tahu hari ini.

Atau ia hanya menebak. Atau ia memang mendengar dari tetangga lain.

Kompleks ini kecil. Bu Parti yang punya warung tahu hampir semua hal tentang semua orang. Pak Hendra di nomor 21 senang ngobrol. Mungkin Pak Aldo sudah berkenalan dengan mereka lebih dulu dan mendengar tentang keluargaku.

Itu penjelasan yang masuk akal.

Aku mengulang-ulang penjelasan itu di kepala, mencoba meyakinkan diri.

Tapi tengkuk itu masih meremang, dan rasa janggal itu tidak mau hilang.

---

Sore harinya, aku ke warung Bu Parti untuk beli gula.

Warung kecil di ujung gang itu adalah pusat informasi tidak resmi kompleks kami — tempat ibu-ibu berkumpul sore-sore, beli kebutuhan kecil sambil bertukar kabar tentang siapa yang sedang renovasi rumah, siapa yang anaknya baru masuk sekolah, siapa yang suaminya jarang pulang.

Pak Aldo ada di sana.

Sedang berbicara dengan Pak Hendra, tertawa tentang sesuatu, menepuk bahu Pak Hendra dengan cara yang membuat Pak Hendra terlihat nyaman dan akrab — seperti mereka sudah kenal lama, padahal Pak Aldo baru pindah seminggu.

"Bu Hana!" Pak Aldo langsung menoleh ketika aku datang, seperti ia sudah tahu aku akan muncul. "Belanja juga?"

"Iya," kataku, tersenyum kecil dan langsung menuju Bu Parti.

"Pak Hendra barusan cerita banyak tentang kompleks ini," kata Pak Aldo, tidak membiarkan percakapan berhenti. "Ternyata kompleksnya sudah lama, ya. Sudah dua puluh tahun lebih, katanya."

"Iya, sudah lama," jawabku sambil menunggu Bu Parti mengambil gula.

"Bu Hana sendiri sudah berapa lama di sini?"

"Lima tahun."

"Wah." Matanya mengerjap, seperti informasi itu menarik baginya. "Jadi Bu Hana masih ingat waktu blok belakang dibangun, ya? Yang dekat lapangan itu?"

Pertanyaan yang aneh. Terlalu spesifik untuk percakapan perkenalan biasa. Kenapa ia peduli tentang kapan blok belakang dibangun? Kenapa ia ingin tahu apa yang aku ingat tentang sejarah kompleks?

"Iya, masih ingat," jawabku hati-hati. "Kenapa?"

"Nggak, penasaran aja." Ia tersenyum lagi, senyum yang sama yang tidak sampai ke matanya. "Saya senang tinggal di kompleks yang punya sejarah. Lebih berasa karakternya. Lebih... terasa siapa saja yang pernah tinggal di sini, siapa yang sudah lama, siapa yang baru."

Bu Parti menyerahkan gula pesananku. Aku membayar dengan cepat, pamit singkat, dan berjalan pulang.

Sepanjang jalan, punggungku terasa ditatap.

Aku tidak berbalik untuk memastikan. Tapi aku tahu — dengan kepastian yang tidak bisa aku jelaskan secara logis — bahwa Pak Aldo sedang memperhatikanku berjalan menjauh.

---

Malam itu, Danin minta ditemani tidur.

Aku berbaring di sebelahnya, mendengarkan napasnya yang perlahan melambat menuju tidur. Tangannya yang kecil meraih lenganku dalam setengah sadar, mencari kepastian bahwa aku ada di sana.

Aku menatap langit-langit kamar dan berpikir tentang Pak Aldo.

Terlalu ramah. Itu yang paling mengganjal.

Bukan ramah seperti orang yang sedang berusaha beradaptasi dengan lingkungan baru — yang biasanya ada kecanggungan, ada usaha yang terlihat, ada ketidakpastian tentang apakah ia diterima atau tidak.

Pak Aldo ramah seperti orang yang sudah tahu ia diterima. Seperti seseorang yang sudah punya posisi di sini jauh sebelum ia secara fisik pindah ke nomor 17. Ramah dengan kepercayaan diri seseorang yang sudah lama mengamati dan tahu persis bagaimana harus berperilaku.

Aku menggeleng pelan pada diriku sendiri.

Mungkin aku berlebihan. Mungkin Pak Aldo hanya pria ramah yang pandai bergaul. Mungkin rasa janggal ini hanya karena aku tidak terbiasa dengan orang baru yang langsung akrab.

Danin bergerak dalam tidurnya. Tangannya mengeratkan genggaman di lenganku.

Aku mengeratkan genggaman itu balik.

Dan memutuskan bahwa besok, aku akan mulai memperhatikan. Bukan karena aku yakin ada yang salah — tapi karena perasaan janggal ini terlalu kuat untuk aku abaikan begitu saja.

Aku tidak tahu malam itu bahwa keputusan untuk memperhatikan akan mengubah segalanya. Aku tidak tahu bahwa pria yang baru saja menyebut nama anakku akan menjadi mimpi buruk yang membuat aku mempertanyakan segala hal — termasuk kewarasanku sendiri.

Aku hanya tahu satu hal: tengkuk yang meremang tidak pernah berbohong.

---