Jam di dinding ruang tamu berdetak terlalu keras malam itu.
Atau mungkin karena rumah memang terlalu sunyi, hingga suara kecil apa pun terasa seperti gema yang diperbesar.
Naira duduk di ujung sofa, punggungnya tegak tapi tidak kaku, seperti seseorang yang sudah terlalu sering menahan sesuatu agar tidak jatuh. Di tangannya, sebuah piring kecil berisi lauk yang sudah mulai dingin. Nasi di meja makan tidak lagi berasap. Bahkan teh yang ia tuang setengah jam lalu sudah kehilangan hangatnya.
Pintu depan tidak benar-benar tertutup rapat—hanya terdorong pelan, seperti seseorang yang masuk tanpa ingin mengganggu dunia yang sudah lebih dulu diam.
Lalu suara itu datang.
Kunci diputar.
Klik.
Dan langkah sepatu bot itu menyentuh lantai.
Satu… dua… tiga…
Naira tidak menoleh langsung. Ia tahu langkah itu. Terlalu hafal untuk disebut asing, terlalu jauh untuk disebut miliknya sepenuhnya.
“Assalamualaikum.”
Suara itu berat. Lelah. Datar.
Naira baru menoleh.
“Waalaikumsalam.”
Di ambang pintu ruang tamu, Arga berdiri.
Seragamnya masih lengkap. Hijau loreng itu menempel rapi di tubuhnya, seperti identitas yang tidak pernah bisa ia lepaskan bahkan saat pulang ke rumah. Ransel besar di bahunya sedikit miring. Wajahnya tidak terluka, tapi ada sesuatu di matanya yang selalu membuat Naira sulit menebak: bukan lelah biasa, tapi seperti seseorang yang pulang tanpa benar-benar kembali.
Naira berdiri perlahan.
“Baru sampai?” suaranya pelan.
Arga mengangguk singkat. “Tadi siang di markas, langsung lanjut laporan. Macet juga.”
Jawaban yang terlalu biasa untuk seseorang yang tidak pernah benar-benar bercerita lebih dari satu kalimat.
Naira melangkah ke arah dapur. “Aku panasin lagi makanannya.”
“Sudah makan di luar,” jawab Arga cepat, bahkan sebelum Naira sampai di dapur.
Langkah Naira berhenti.
Hening jatuh lagi.
“Di luar?” ulangnya pelan, tanpa emosi yang jelas.
“Di mess. Ada rapat mendadak.”
Naira tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, lalu kembali ke meja makan. Tangannya merapikan sendok yang sebenarnya sudah rapi. Gerakan kecil yang tidak perlu, tapi dilakukan agar ia tidak terlihat diam saja.
Arga melepas ranselnya. Bunyi kain dan besi kecil yang saling bersentuhan terdengar keras di telinga Naira. Lalu ia meletakkannya di dekat sofa tanpa benar-benar menatap Naira lagi.
Sementara itu, ponselnya bergetar.
Sekali.
Dua kali.
Arga menatap layar. Cepat. Hampir refleks.
Naira melihatnya.
Bukan getaran itu yang membuat dadanya mengeras, tapi cara Arga menatapnya. Seperti sesuatu di dalam ponsel itu tidak ingin dilihat siapa pun… kecuali dia.
Arga langsung mengunci layar.
“Siapa?” tanya Naira, ringan.
“Komandan.”
Jawaban itu terlalu cepat.
Terlalu siap.
Naira tersenyum tipis. “Jam segini?”
Arga tidak menjawab. Ia berjalan ke meja makan, mengambil gelas air, minum tanpa menatap Naira. Tenggorokannya naik turun saat menelan.
Naira memperhatikan itu semua.
Dulu, Arga selalu pulang dengan cerita. Bahkan hal kecil—tentang hujan di markas, tentang kopi yang terlalu pahit, tentang junior yang salah baris.
Sekarang, ia pulang seperti seseorang yang hanya ingin menyelesaikan kewajiban.
“Capek?” Naira akhirnya bertanya lagi.
Arga mengangguk. “Sedikit.”
“Besok masih berangkat?”
“Pagi.”
Satu kata. Dua kata. Tiga kata. Percakapan mereka seperti tangga yang semakin pendek, sampai akhirnya tidak lagi menuju ke mana pun.
Naira menghela napas pelan. Ia berdiri, mengambil piring Arga yang tidak dipakai, meski sebenarnya tidak perlu.
“Aku simpan makanannya kalau kamu lapar nanti,” katanya.
“Tidak usah. Aku sudah kenyang.”
Ada jeda kecil setelah itu.
Jeda yang tidak diisi apa pun.
Arga berjalan ke kamar. Tanpa menoleh. Tanpa menyentuh bahu Naira seperti dulu. Tanpa kalimat tambahan.
Pintu kamar tertutup.
Klik.
Dan rumah kembali sunyi.
Tapi kali ini, sunyi itu tidak lagi terasa netral.
Ia terasa penuh.
Naira berdiri di dapur, menatap piring yang masih rapi. Uap dari teh yang tadi ia panaskan lagi benar-benar sudah hilang.
Ia mematikan kompor.
Tangannya bergerak otomatis mencuci piring, meski hanya dua. Air mengalir, suara keran memenuhi ruang kecil itu. Tapi bahkan suara air pun tidak cukup menutupi pikirannya.
Di ruang tamu, jam masih berdetak.
Di kamar, tidak ada suara apa pun.
Seperti dua dunia yang tidak saling menyentuh.
Naira mengeringkan tangannya, lalu berjalan pelan ke meja kerja kecil di sudut ruang tamu. Di sana ada bingkai foto.
Ia dan Arga.
Foto itu diambil dua tahun lalu.
Arga masih tersenyum lepas di sana. Seragamnya berbeda—lebih baru, pangkatnya belum setinggi sekarang. Naira di sebelahnya tertawa, kepalanya sedikit miring ke bahu Arga, seperti dunia saat itu masih sederhana.
Naira menyentuh kaca bingkai itu.
Dingin.
Seperti jarak yang tidak terlihat.
Ponselnya berbunyi.
Bukan miliknya.
Ponsel Arga.
Getarannya samar, dari kamar.
Naira menoleh.
Sekali lagi.
Dua kali.
Tidak ada suara langkah dari dalam kamar. Tidak ada Arga yang keluar untuk mengambilnya.
Hanya getar yang terus berulang.
Naira berdiri diam beberapa detik.
Lalu ia melangkah pelan ke arah kamar.
Langkahnya tidak terburu-buru. Tapi juga tidak santai.
Semakin dekat ke pintu kamar, semakin jelas getaran itu terdengar.
Getar yang tidak seharusnya diabaikan.
Naira berhenti di depan pintu.
Tangannya terangkat sedikit.
Ragu.
Tapi bukan ragu yang pertama kali ia rasakan.
Ini ragu yang sudah menumpuk terlalu lama.
Ia akhirnya mendorong pintu perlahan.
Celah kecil terbuka.
Arga tidak di tempat tidur.
Kamar itu kosong.
Hanya ada suara shower dari kamar mandi.
Dan di atas meja samping tempat tidur…
ponsel itu masih menyala.
Layar tidak terkunci sepenuhnya.
Nama yang muncul di notifikasi membuat jari Naira berhenti di udara.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Dan di saat yang sama, suara shower di kamar mandi tiba-tiba berhenti.
Ponsel itu bergetar lagi.
Nama di layar masih belum hilang.
Naira menatapnya tanpa berkedip.
Langkah kaki terdengar dari dalam kamar mandi.
Semakin dekat.
Dan di detik Naira hampir menarik tangannya dari meja itu…
pintu kamar mandi terbuka.
Arga berdiri di sana, hanya dengan handuk di bahunya, rambutnya masih basah.
Matanya langsung menangkap Naira.
Lalu turun.
Ke arah ponselnya.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi Arga berubah.
Bukan lelah.
Bukan dingin.
Tapi… waspada.
“Na,” suaranya rendah.
Naira tidak bergerak.
Tangannya masih di dekat ponsel itu.
Dan layar itu masih menyala.
Nama yang sama masih terpampang di sana.
Arga melangkah cepat.
Terlambat satu detik saja, Naira sudah melihat cukup.
Namun yang membuat dada Naira benar-benar jatuh bukan nama itu…
melainkan pesan yang baru saja muncul di bawahnya:
“Aku sudah di hotel seperti biasa. Kamu kapan menyusul?”
Arga meraih ponselnya.
Tapi Naira sudah menatapnya lebih dulu.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam dua tahun pernikahan mereka…
Naira tidak bertanya “siapa”.
Ia hanya berdiri diam.
Seperti seseorang yang baru saja memahami, bahwa rumah ini memang sepi—
bukan karena suaminya tidak pulang.
Tapi karena suaminya tidak pernah benar-benar tinggal.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar