Rumah keluarga Santoso di Bekasi sudah tidak terlihat seperti sebelumnya.
Ini yang pertama Nara perhatikan ketika turun dari ojek online di depan pagar: tanaman di teras tidak lagi terlalu rapi. Bukan karena tidak dirawat — tapi karena dirawat dengan cara yang berbeda. Ada pot baru yang ditambahkan di sudut yang sebelumnya kosong. Ada tanaman yang dipindahkan dari posisi lamanya. Ada jejak-jejak keputusan kecil yang menunjukkan bahwa seseorang sudah mulai membuat keputusan tentang rumah ini lagi — bukan hanya mempertahankannya dalam kondisi yang sama, tapi mengubahnya.
Beni membuka pintu sebelum Nara mengetuk — ia tampaknya sudah melihat dari jendela. Ekspresinya berbeda dari dua kunjungan sebelumnya: tidak ada campuran antara harap dan khawatir yang selalu ada di wajahnya sebelumnya. Ada sesuatu yang lebih solid.
*"**Laras lagi di teras belakang,**"*
kata Beni.
*"**Bisa langsung ke sana.**"*
Tidak ada 'bagaimana kondisinya' atau 'tolong jangan terlalu lama' atau tanda-tanda protokol yang Beni selalu berikan di kunjungan sebelumnya. Hanya arah. Yang berarti Beni sudah tidak merasa perlu mempersiapkan Nara untuk apa yang akan ia temui.
Laras duduk di kursi rotan di teras belakang dengan secangkir kopi di tangan dan buku yang terbuka di pangkuannya. Bukan buku yang dibaca dengan cara orang yang sedang berusaha membaca karena perlu menunjukkan bahwa mereka masih bisa membaca — tapi buku yang dibaca dengan cara orang yang sedang menikmati membaca karena memang menikmatinya.
Ia mendongak ketika Nara datang dan tersenyum — senyum yang natural, yang tidak ada komponen 'ini cara yang aku ingat seseorang tersenyum' di dalamnya.
*"**Nara. Duduk.**"*
Nara duduk di kursi di sebelah Laras. Di antara mereka ada meja kecil dengan teko air panas dan dua cangkir ekstra. Seseorang menyiapkan ini sebelum Nara datang.
*"**Kamu baca apa?**"*
Laras memperlihatkan sampul buku — novel, penulis yang Nara tidak kenal, sampul dengan ilustrasi pemandangan laut.
*"**Ditemukan di lemari. Ternyata sudah aku baca sebelumnya — ada beberapa halaman yang sudutnya dilipat. Aku tidak ingat membacanya, tapi cara ceritanya terasa familier. Seperti mendengar lagu yang kamu tahu tapi tidak ingat dari mana kamu tahu.**"*
Cara Laras bercerita tentang ini — cara yang santai, yang tidak ada ketegangan dalam mengakui bahwa ada sesuatu yang ia tidak ingat — berbeda dari cara Laras berbicara di kunjungan kedua. Di kunjungan kedua setiap kalimat terasa seperti sesuatu yang diambil dari tempat yang terlalu jauh. Sekarang kalimat-kalimat itu datang dari dekat.
Mereka berbicara selama dua jam. Tentang berbagai hal — buku itu, tanaman di teras yang Laras sudah mulai tata ulang, rencana Beni yang ingin mereka pergi ke Yogyakarta bulan depan, hal-hal yang keduanya mengerti sebagai hal-hal biasa yang nilai terbesar dari kebiasaannya.
Di satu titik, Laras meletakkan bukunya dan melihat ke halaman belakang yang sudah mulai gelap dengan cara sore yang berbeda dari pagi.
*"**Ada satu kenangan yang baru kembali minggu kemarin,**"*
kata Laras.
*"**Bukan yang besar. Tapi yang ini terasa berbeda dari yang lain.**"*
Nara menunggu.
*"**Cara Beni memegang tanganku waktu aku takut. Waktu kami menikah, aku sangat gugup sebelum upacara. Dia memegang tanganku dan cara dia memegangnya — tidak erat karena menyuruhku untuk tidak takut, tapi erat karena dia bilang aku boleh takut dan dia akan tetap di sana. Cara yang sangat spesifik. Aku tidak ingat ini selama berbulan-bulan. Dan kemudian minggu kemarin, ketika ada suara keras dari luar dan aku sedikit terkejut, Beni memegang tanganku dengan cara yang sama.**"*
Laras melihat ke tangannya sendiri.
*"**Dan aku ingat. Bukan langsung — seperti sesuatu yang menemukan jalan pulang melalui jalan yang berbeda dari jalan semula. Melalui tangan, bukan melalui pikiran.**"*
Nara mencatat ini dalam buku kecilnya — dengan cara yang sudah menjadi kebiasaannya, tulisan yang hanya bisa ia baca sendiri dan yang tidak pernah ia biarkan siapapun melihat isinya kecuali kalau ia pilih untuk membagikannya.
*"**Itu kenangan yang baik untuk dikembalikan,**"*
kata Nara akhirnya.
*"**Semua kenangan yang kembali baik,**"*
kata Laras.
*"**Bahkan yang menyakitkan. Bahkan yang tentang kehilangan atau kegagalan atau momen memalukan. Semua lebih baik dari tidak ada.**"*
Beni muncul dari dalam membawa pisang goreng yang masih hangat. Cara ia meletakkan piring di meja antara Laras dan Nara adalah cara seseorang yang sudah belajar kembali cara berbagi ruang dengan orang yang dicintai — bukan terlalu hati-hati sampai mengganggu, tidak terlalu mengabaikan sampai tidak ada. Tepat.
Nara makan satu pisang goreng dan tidak berkata apa-apa untuk beberapa menit.
Di teras belakang yang sudah mulai gelap, suara kota Bekasi terdengar dari kejauhan — motor, klakson, sesekali suara anak-anak dari halaman tetangga. Laras membuka bukunya kembali. Beni kembali ke dalam. Nara duduk dan merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan cukup penuh untuk diakui: bahwa ada hal-hal yang berhasil. Tidak sempurna, tidak selesai sepenuhnya, tapi ada — dan itu lebih dari yang bisa dijamin ketika semua ini dimulai.
Ketika Nara pamit satu jam kemudian, di pintu Laras berkata satu hal:
*"**Kamu tidak perlu terus datang untuk memeriksa. Maksudku — kamu boleh datang. Tapi tidak perlu karena merasa harus memeriksa.**"*
Nara berdiri di pintu dan memikirkan cara terbaik untuk merespons kalimat itu.
*"**Terima kasih,**"*
kata Nara akhirnya.
*"**Aku akan ingat itu.**"*
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar