Ada ritual kecil yang sudah terbentuk dalam kunjungan-kunjungan Nara ke apartemen Kemang.
Sinta selalu sudah menyeduh teh sebelum Nara tiba. Bukan karena menebak waktu kedatangan yang tepat — lebih karena Sinta selalu menyeduh teh di jam-jam tertentu, dan jam-jam itu hampir selalu bertepatan dengan kedatangan Nara, yang mungkin bukan kebetulan tapi yang tidak pernah dibahas sebagai bukan kebetulan. Teh selalu ada. Percakapan bisa dimulai tanpa harus menunggu sesuatu yang lebih mendesak dari teh.
Hari itu Nara datang dengan tangkapan layar dari Dean yang sudah dicetak — kebiasaan arsipis yang lebih mempercayai kertas dari layar untuk hal-hal yang penting — dan meletakkannya di meja setelah menerima cangkir tehnya.
Sinta membaca tangkapan layar itu. Membacanya lagi.
*"**Ini dari aplikasi yang Dean tidak pernah instal,**"*
kata Nara.
*"**Ya,**"*
kata Sinta.
*"**Kamu mengenali cara kerjanya?**"*
*"**Aku pernah melihat sesuatu yang mirip waktu ada di dalam. Bukan aplikasi — cara tertentu kondisi di sana berkomunikasi dengan yang di luar ketika ada kondisi yang sangat khusus. Tapi aku tidak pernah tahu cara kerja teknisnya dari luar.**"*
Nara meletakkan cangkirnya.
*"**Ini berarti waktunya sudah tiba untuk nama yang kamu janjikan.**"*
Sinta diam sebentar. Bukan karena ragu — Nara sudah mengenal cara Sinta cukup lama untuk bisa membedakan diam yang ragu dengan diam yang menyiapkan. Ini yang kedua.
Sinta berdiri dan pergi ke meja kerjanya. Ia membuka laci paling bawah dan mengeluarkan sebuah map yang tampak lebih tua dari map-map lain di mejanya — kertasnya lebih kuning, tepinya lebih rapuh, labelnya dalam tulisan tangan yang lebih kecil dari cara Sinta biasanya menulis.
Ia membuka map itu dan mengeluarkan satu lembar kertas. Fotokopi dari sesuatu yang aslinya jelas lebih tua — tulisan dengan aksara yang campuran antara Latin lama dan sesuatu yang lain, dengan tinta yang sudah sangat pudar sehingga beberapa kata hanya bisa ditebak dari konteks.
Di bagian atas lembar itu, dilingkari dengan tinta merah yang tampak lebih baru dari dokumennya sendiri: satu nama.
*"**Wirawan.**"*
Nara membaca nama itu. Kemudian melihat ke Sinta.
*"**Nama tunggal.**"*
*"**Ya. Cara penamaan tertentu dari era yang berbeda. Tidak ada nama keluarga — tidak ada konsep nama keluarga dalam cara yang kita kenal sekarang pada masa itu.**"*
*"**Era mana?**"*
Sinta duduk kembali di kursinya.
*"**Pertengahan abad kedelapan belas. Aku pertama menemukan nama ini dalam catatan arsip Belanda — VOC, sekitar tahun 1743. Catatan yang sangat singkat, lebih seperti anomali yang dicatat oleh seorang pejabat yang tidak tahu cara mengategorikannya: seseorang yang sudah tidak ada dalam daftar penduduk tapi yang tubuhnya masih terlihat berjalan di kawasan Batavia. Yang namanya tidak ada di mana pun tapi yang kehadirannya masih bisa diamati.**"*
Nara mengeluarkan buku catatannya.
*"**Ini orang yang mengirim amplop untuk Dean.**"*
*"**Ya.**"*
*"**Kamu yakin?**"*
*"**Dari yang aku pelajari selama bertahun-tahun ada di dalam — ada satu entitas kesadaran di lapisan terdalam yang punya akses ke informasi yang tidak dimiliki siapapun lain. Informasi tentang semua yang pernah ada di dalam, termasuk tentang orang-orang di luar yang kondisinya terhubung dengan entitas dengan cara tertentu. Wirawan adalah satu-satunya yang kondisinya memungkinkan ia mengakses dan mengirimkan informasi itu keluar.**"*
Nara menulis nama itu di buku catatannya. Kemudian, di bawahnya, tanggal yang Sinta sebutkan.
*"**1743. Hampir tiga ratus tahun.**"*
*"**Dua ratus delapan puluh satu tahun, kalau kita hitung dari catatan pertama.**"*
Nara duduk dengan angka itu.
*"**Dan selama dua ratus delapan puluh satu tahun itu ia ada di dalam.**"*
*"**Di lapisan terdalam. Dengan kondisi yang berbeda fundamental dari yang masuk setelahnya.**"*
*"**Kenapa berbeda?**"*
Sinta mengambil map lamanya lagi dan mengeluarkan beberapa lembar lain — juga fotokopi, juga dari sumber yang berbeda, dalam beberapa bahasa yang berbeda. Cara ia meletakkannya di meja menunjukkan bahwa urutan ini sudah ia pikirkan sebelumnya.
*"**Karena ia bukan yang masuk untuk dilupakan. Ia masuk untuk mencatat. Untuk mendokumentasikan kondisi itu dari dalam, dengan cara seorang pencatat — profesinya di dunia luar. Dan di dalam, ia menemukan sesuatu yang tidak ia antisipasi: entitas pada waktu itu masih sangat muda, masih belum stabil. Dan kondisi Wirawan — seseorang yang tugasnya mempertahankan yang ada, yang secara aktif melawan penghilangan — menjadi semacam penahan alami. Sesuatu yang mencegah entitas berkembang ke arah yang jauh lebih tidak terkendali.**"*
*"**Ia menjadi penjaga dari dalam.**"*
*"**Tanpa pernah merencanakan untuk menjadi itu. Dan kemudian terlalu lama di sana untuk bisa keluar dengan cara biasa — kondisinya sudah terlalu terintegrasi dengan kondisi entitas.**"*
Nara melihat lembar-lembar yang ada di meja. Dokumen dari berbagai era, berbagai bahasa, berbagai cara manusia mencatat sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa mereka pahami tapi yang ada di depan mereka cukup nyata untuk perlu dicatat.
*"**Jurnalnya,**"*
kata Nara.
*"**Apakah ada?**"*
Sinta melihat ke Nara dengan cara yang menunjukkan ia sudah mengantisipasi pertanyaan ini.
*"**Di Leiden. Perpustakaan universitas. Koleksi yang tidak didigitalisasi — tapi bisa dipesan salinan digitalnya dengan permintaan resmi. Tidak semua orang tahu cara memesannya, tapi kamu seorang arsipis. Kamu tahu cara masuk ke dalam sistem perpustakaan akademik.**"*
Nara sudah membuka laptopnya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar