Nara menghabiskan satu minggu penuh di antara dua kondisi yang tidak biasanya ia tempati bersamaan: dunia arsip digital modern dan jejak yang sangat tidak digital dari seseorang yang hidup tiga abad sebelumnya.
Arsip digital modern pertama: database Arsip Nasional Republik Indonesia, yang punya koleksi dokumen era kolonial yang paling lengkap di luar Leiden dan Den Haag. Nara sudah pernah masuk ke database ini untuk keperluan penelitian sebelumnya dan sudah tahu cara navigasinya — termasuk cara masuk ke bagian yang tidak diindeks dengan cara yang mudah ditemukan, bagian yang ada karena seseorang pernah memasukkannya ke sistem tapi tidak dengan cara yang membuat sistem bisa memprosesnya dengan benar.
Di bagian itulah ia menemukan referensi pertama yang bukan hanya nama tanpa konteks.
Catatan dari 1748 — lima tahun setelah catatan VOC yang Sinta tunjukkan — dari seorang pendeta yang bertugas di Batavia dan yang rupanya menyimpan semacam jurnal pribadi yang kemudian diserahkan ke lembaga gereja di Belanda dan yang salinannya ada di sini. Pendeta itu menulis, dalam bahasa Belanda yang sudah Nara pelajari cukup untuk memahami artinya dengan bantuan kamus:
'Ada seorang pribumi yang disebut orang-orang sekitar sebagai pencatat. Ia berkeliling kota dan mencatat nama-nama semua orang yang ia temui, termasuk orang-orang yang kondisinya membuat mereka tidak tercatat oleh otoritas — yang tidak punya surat keterangan, yang tidak terdaftar, yang keberadaannya hanya diketahui oleh tetangga-tetangga terdekat. Ia melakukan ini bukan atas perintah siapapun. Ketika ditanya kenapa, ia menjawab bahwa nama adalah bukti bahwa seseorang pernah ada, dan bahwa ada banyak orang yang kalau tidak dicatat akan hilang seperti tidak pernah ada.'
Nara membaca paragraf itu dua kali.
Kemudian ia menuliskan satu kalimat di buku catatannya di bawah nama Wirawan: 'Arsipis pertama, dalam artian yang paling esensial.'
Arsip digital kedua: database perpustakaan Universitas Leiden, yang sudah lama punya hubungan dengan Arsip Nasional dan yang koleksi digitalisasinya — meski luas — masih meninggalkan banyak bagian yang belum didigitalisasi. Nara membuat permintaan resmi dengan kop surat perpustakaan kota tempatnya bekerja, merujuk ke nama koleksi yang Sinta berikan, dan menunggu.
Tiga hari kemudian ada email dari koordinator koleksi Leiden: salinan digital bisa tersedia dalam dua hari kerja. Format PDF, kualitas tinggi, dengan metadata tentang kondisi fisik dokumen aslinya. Biaya: nominal yang bisa Nara urus dari anggaran penelitian perpustakaan tanpa perlu banyak penjelasan.
Sementara menunggu, Nara melanjutkan dengan sumber ketiga: arsip keluarga.
Ini yang paling tidak langsung dan paling tidak pasti — tapi juga yang paling menarik. Melalui jaringan Seno yang sudah berkembang dalam beberapa bulan terakhir, ada beberapa keluarga Betawi tua yang secara tradisi menyimpan catatan silsilah dengan cara yang berbeda dari catatan resmi. Nara menghubungi dua keluarga melalui Seno dan mendapatkan izin untuk melihat catatan tersebut.
Di catatan silsilah keluarga pertama, tersembunyi dalam entri yang sangat singkat tentang 'leluhur yang hilang sambil mencatat': nama Wirawan. Bukan dalam konteks yang jelas — lebih seperti ada seseorang dalam sejarah keluarga ini yang pernah mengenal Wirawan atau yang kondisinya terhubung dengan kondisi Wirawan, dan yang mewariskan ingatan tentang itu ke generasi berikutnya dalam bentuk yang tidak sepenuhnya dipahami tapi yang tidak mau dihilangkan.
Nara mencatat semua ini dan membangun gambaran dari potongan-potongan yang tidak semuanya cocok dengan rapi tapi yang bersama membentuk sesuatu yang bisa dikenali:
Wirawan adalah orang Batavia pertengahan abad kedelapan belas yang tugasnya — yang ia pilih sendiri tanpa ada yang memerintahkan — adalah memastikan nama-nama orang yang tidak tercatat oleh sistem resmi tetap ada di suatu tempat. Ia adalah arsipis dalam arti yang paling primitif dan paling penting: seseorang yang percaya bahwa keberadaan yang tidak dicatat adalah keberadaan yang tidak sempurna.
Dan pada suatu titik di tahun 1743 atau sekitarnya, Wirawan mendekati sesuatu yang ia ingin dokumentasikan dari dalam — kondisi yang sudah ada di sekitar Batavia dan yang ia amati tapi tidak bisa pahami dari luar. Dengan cara seorang pencatat yang tidak bisa membiarkan sesuatu yang ada tidak dicatat.
Dua hari kemudian, salinan digital jurnal Wirawan tiba.
Nara membukanya pada malam hari di ruang arsip bawah tanah perpustakaan, setelah semua orang lain pulang. Dengan kamus Melayu klasik yang ia pinjam dari koleksi referensi dan dengan cara membaca yang sudah ia kembangkan untuk dokumen-dokumen lama: perlahan, dengan lebih banyak ruang untuk ketidakpastian makna daripada yang biasanya ia toleransi.
Halaman-halaman pertama: catatan tentang Batavia. Orang-orang yang ia temui, nama-nama yang ia dokumentasikan, kondisi kota yang ia deskripsikan dengan cara seseorang yang melihat segalanya dan yang merasa bertanggung jawab atas semua yang ia lihat. Tulisan yang rapi dan teratur dengan cara seseorang yang sudah sangat terbiasa menulis dan yang menulis bukan hanya karena tugasnya tapi karena itu adalah cara ia ada di dunia.
Kemudian, di bagian tengah jurnal — ditulis dengan tinta yang berbeda, lebih pekat, seperti ditulis di waktu yang berbeda dengan kondisi yang berbeda — beberapa halaman yang membuat Nara membaca lebih lambat dari sebelumnya.
Wirawan menulis: ia mulai merasakan sesuatu yang tidak bisa ia identifikasi sumbernya. Sebuah tarikan. Sebuah kecenderungan ke arah kondisi yang berbeda dari kondisi normal. Ia mendeskripsikannya dengan cara yang sangat spesifik — cara seseorang yang terlatih mengamati dan mencatat bahkan ketika yang diamati adalah kondisi dirinya sendiri — dan cara ia mendeskripsikannya membuat Nara berhenti bernapas sebentar.
Persis. Persis sama dengan cara Nara mendeskripsikan, dalam tulisannya sendiri yang baru saja ia mulai, momen sebelum ia menemukan laci arsip B-7. Momen sebelum semua ini dimulai.
Dan di halaman terakhir yang ada dalam salinan ini — halaman yang tepinya lebih rusak dari halaman-halaman sebelumnya, seperti diperlakukan berbeda dari bagian lain jurnal — satu kalimat yang Nara baca, tutup laptopnya, dan duduk diam selama beberapa menit sebelum membukanya kembali untuk membaca ulang:
'Aku mencatat nama-nama orang supaya mereka tidak terlupakan. Tapi siapa yang mencatat namaku?'
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar