Aku tahu hari itu akan berbeda dari cara Mama memanggil namaku. Biasanya "Kiranaaa" dari dapur berarti tolong angkat jemuran, atau galon habis, atau remote TV hilang lagi entah ke mana. Tapi pagi itu, panggilannya naik satu oktaf lebih tinggi dari biasa. Ada semangat di dalamnya yang membuatku langsung waspada. "Kirana! Turun, cepat! Sudah datang!" Aku turun masih dengan rambut diikat asal dan kaus tidur yang sebenarnya kaus Damar. Di ruang tamu, aku menemukan pemandangan yang akan kuingat seumur hidup. Tiga karton besar. Tertumpuk di tengah ruangan, menutupi meja, menggeser pot bunga plastik yang sudah lima tahun jadi pajangan. Mama berdiri di sampingnya seperti orang yang baru memenangkan undian. "Apa ini, Ma?" "Buka." Matanya berbinar. "Buka satu." Aku membuka yang paling atas. Di dalamnya, terlipat rapi dalam plastik, daster. Bermotif bunga. Banyak sekali. "Berapa banyak ini?" "Lima puluh." Mama bilang angka itu seperti menyebut nama cucu pertama. "Lima puluh helai, Kirana. Mama mau
Mertua Online Shop
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar