Aku selalu tahu kapan giliranku tiba. Bukan dari kata-kata, tapi dari jeda—jeda sepersekian detik sebelum namaku disebut, seolah semua orang di ruangan itu harus memutar otak dulu untuk mengingat bahwa aku ada.
Malam itu, ruang keluarga penuh. Kakek duduk di kursi paling depan, punggungnya tegak seperti biasa, tangannya melipat di atas tongkat kayu yang lebih sering jadi simbol wibawa ketimbang alat bantu jalan. Mama di sampingnya, Papa di belakang, dan Putri—kakakku, anak pertama, anak kesayangan—berdiri di tengah ruangan dengan wajah yang sudah menyiratkan penolakan sebelum kalimat pertama diucapkan.
"Kakek sudah janji sama sahabat Kakek," kata Kakek, suaranya pelan tapi setiap kata terasa seperti diketuk dengan palu. "Cucu satu-satunya beliau harus menikah dengan salah satu cucu Kakek. Itu bukan permintaan. Itu hutang kehormatan."
Putri langsung menyahut, nadanya tinggi. "Tapi Kek, aku udah punya rencana sendiri. Aku nggak—aku nggak mau nikah sama orang yang bahkan belum pernah aku temuin."
"Putri." Mama mencoba menenangkan, tapi suaranya lemah, seperti orang yang tahu dia kalah sebelum bicara.
Aku duduk di sudut, di tempat yang memang selalu jadi tempatku—bukan di tengah, bukan di dekat Kakek, tapi di pinggir, tempat orang bisa lupa aku ada kalau tidak sengaja menoleh.
Dan kemudian Putri menoleh. Ke arahku.
"Kek," katanya, suaranya berubah, lebih ringan, hampir seperti menemukan solusi cerdas untuk soal matematika yang rumit. "Kenapa harus aku? Kan ada Hani."
Ruangan hening sebentar. Bukan hening yang canggung—hening yang berpikir. Seolah nama itu, namaku, baru saja membuka pintu yang selama ini tidak terpikirkan siapa pun.
"Hani kan juga cucu Kakek," lanjut Putri, makin yakin. "Dia nggak punya rencana apa-apa juga kan? Biar dia aja yang nikah sama cucunya sahabat Kakek. Aku yakin dia nggak keberatan."
Aku menunggu seseorang membantah. Aku menunggu Mama bilang, "Putri, jangan gitu, itu bukan cara kamu selesaikan masalah kamu." Aku menunggu Papa menoleh ke arahku, sekadar bertanya lewat mata, apakah aku baik-baik saja mendengar namaku dilempar seperti barang yang bisa dipindahtangankan.
Tidak ada yang menoleh.
Mama diam. Diam yang lebih lama dari yang seharusnya. Diam yang, kalau aku jujur pada diriku sendiri, sudah aku kenal betul sejak kecil—diam yang berarti "aku tahu ini salah, tapi aku nggak akan bilang apa-apa."
Aku mencoba, sekali ini, bicara. "Kek, aku—"
"Bagus," potong Kakek, seolah tidak mendengar suku kata pertama yang keluar dari mulutku. "Kalau begitu Hani yang menikah. Kakek akan bicara ke keluarga sahabat Kakek besok."
Semudah itu. Nasibku diputuskan dalam satu kalimat, di antara kalimat orang lain, seperti catatan kaki yang tidak perlu dibaca ulang.
Aku menunduk, menatap ujung sepatu. Aku sudah terbiasa dengan ini—dengan menjadi opsi kedua, cadangan yang dipanggil ketika opsi pertama menolak. Sejak kecil, hadiah untuk Putri selalu lebih besar "karena dia kakak." Pujian untuk Putri selalu lebih dulu "karena dia yang berprestasi." Dan sekarang, beban untuk Putri dialihkan ke aku, "karena aku nggak keberatan."
Siapa yang bilang aku nggak keberatan?
Tidak ada yang pernah bertanya.
Malam itu, setelah semua orang membubarkan diri dengan wajah lega—lega karena masalah "selesai", lega karena Putri tidak jadi harus mengorbankan rencananya—aku masih duduk di sudut yang sama. Sendirian. Menunggu, entah untuk apa. Mungkin menunggu seseorang datang, duduk di sampingku, dan bilang, "Han, kamu nggak apa-apa?"
Tidak ada yang datang.
Aku dengar suara Putri di lorong, bicara di telepon dengan temannya, nadanya sudah kembali ceria seperti biasa. "Untung ada Hani. Bener-bener lega deh."
Kata-kata itu menempel di dadaku seperti bekas luka bakar—kecil, tapi panasnya menetap lama setelah apinya padam.
Aku masuk ke kamar, menutup pintu pelan-pelan supaya tidak ada yang mendengar kalau aku menangis. Aku duduk di tepi ranjang, memandangi tangan sendiri, memikirkan wajah pria yang bahkan belum pernah aku temui—pria yang, dalam beberapa minggu, akan jadi suamiku. Bukan karena dia memilihku. Bukan karena aku memilihnya.
Tapi karena aku adalah opsi yang tersisa.
Aku menulis di diary kecil yang sudah kupakai sejak SMP, satu-satunya tempat aku bisa jujur tanpa takut diabaikan:
"Aku selalu tahu aku nomor dua. Tapi nggak pernah sesakit ini rasanya jadi nomor dua sampai harus menikahi orang asing hanya karena kakakku bilang aku nggak keberatan."
Aku menutup buku itu, mematikan lampu, dan berbaring dalam gelap. Di luar, aku masih bisa dengar samar suara Mama dan Papa bicara pelan di ruang tengah—bukan tentang aku, tentang jadwal pertemuan dengan keluarga besan yang baru.
Tidak ada yang membicarakan perasaanku. Tidak ada yang bertanya apakah aku ingin ini.
Aku menutup mata, dan hal terakhir yang aku pikirkan sebelum tidur bukan tentang pria yang akan menjadi suamiku.
Tapi tentang satu pertanyaan yang sudah lama aku telan sendiri, dan malam ini terasa lebih tajam dari biasanya:
Kenapa harus selalu aku yang mengalah, sampai aku sendiri lupa gimana rasanya diperjuangkan?
Besok paginya, aku bangun dengan mata bengkak—dan mendapati Mama sudah menunggu di meja makan, wajahnya berseri, memegang ponsel.
"Han," katanya, senyumnya lebar, seolah tidak terjadi apa-apa semalam. "Kakek udah dapet kabar dari keluarga sana. Mereka setuju. Katanya calon suamimu ganteng, lho."
Aku tersenyum, karena itu yang selalu aku lakukan.
Tapi di dalam, sesuatu yang lebih besar dari sekadar kecewa mulai retak—dan aku bahkan belum tahu, retakan itu baru permulaan dari luka yang jauh lebih dalam yang menungguku di depan.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar