Palu kayu diketuk tiga kali di atas meja ukir tua itu, dan suara itu menggema lebih keras daripada guntur di telinga Wening.
Tok. Tok. Tok.
Setiap ketukan seperti menghantam dadanya sendiri. Ruang pusaka itu berbau dupa dan kayu jati yang sudah dimakan usia, dingin meski jendela-jendela besar dibuka lebar dan angin sore menyusup lewat gorden beludru yang menggantung berat. Lampu gantung kristal di atas kepala memantulkan cahaya kekuningan, jatuh tepat pada sepuluh pasang mata tetua yang duduk melingkar mengelilingi meja, seperti dewan hakim yang sudah menyiapkan vonis jauh sebelum sidang dimulai. Lantai marmer di bawah kaki Wening terasa sedingin es, merambat naik lewat telapak kakinya yang berbalut sepatu formal, seakan ruangan itu sengaja dibangun untuk membekukan siapa pun yang berani melawan.
"Berdasarkan musyawarah dewan tetua trah Kalingga," suara Eyang Putri terdengar datar, tanpa nada ampun, mengalir pelan seperti sudah dihafal di luar kepala, "hak asuh atas Kirana Kalingga, cucu sulung trah, diserahkan sepenuhnya kepada keluarga besar Kalingga, terhitung sejak hari ini."
Untuk sesaat, Wening tidak bisa mendengar apa-apa selain detak jantungnya sendiri yang menggedor telinga. Suara-suara lain di ruangan itu—desah napas para tetua, derit kursi kayu, dengung samar AC di sudut ruangan—semuanya lenyap, tertelan oleh dentang di dadanya sendiri.
Ini tidak nyata. Ini tidak mungkin nyata.
Ia menggenggam tangan Kirana lebih erat, sampai gadis kecil itu sedikit meringis. Anak empat tahun itu mendongak, bingung melihat wajah ibunya yang tiba-tiba pucat pasi, keringat dingin merembes di pelipis meski ruangan itu ber-AC. Jemari mungil Kirana yang biasanya hangat kini terasa dingin di genggaman Wening, gemetar kecil yang menular dari tubuh ibunya.
"Bu, kenapa?" bisik Kirana, suaranya kecil, menarik-narik ujung rok Wening. "Bu Wening kenapa diem?"
Wening tidak menjawab. Tenggorokannya tercekat, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencengkeram lehernya. Ia menatap satu per satu wajah para tetua—wajah-wajah tua yang keriput namun tegas, mata yang menatapnya seperti menatap benda asing yang tersasar masuk rumah mereka. Di dinding belakang meja, lukisan besar pendiri trah Kalingga memandang tajam ke bawah, seakan ikut mengamini keputusan yang baru saja dijatuhkan. Bau dupa yang menguar dari tungku kecil di sudut ruangan tiba-tiba terasa menyesakkan, seolah ikut menekan paru-parunya.
"Atas dasar apa?" Suara Wening akhirnya keluar, pecah di tengah namun ia paksakan tetap tegak, bahunya ia dorong ke belakang meski lututnya nyaris tak sanggup menahan berat tubuhnya sendiri. "Saya ibu kandungnya. Saya punya akta kelahiran, saya punya—"
"Nak Wening." Eyang Putri memotong, lembut tapi menusuk, seperti sembilu yang dibalut kain sutra. Tangan tuanya yang penuh cincin batu-batu besar terlipat rapi di atas meja, kukunya yang dipoles rapi mengetuk pelan permukaan kayu, seolah menghitung detik kesabarannya sendiri. "Kau bukan darah priyayi. Kau menikah dengan Aryasatya, itu benar. Tapi di mata adat, kau hanya... ibu susu. Yang melahirkan, bukan yang mewarisi darah."
Kata-kata itu menghantam seperti tamparan yang tak kelihatan bekasnya, tapi perih menembus sampai ke tulang. Wening merasa wajahnya panas, seperti ditampar sungguhan, meski tak ada tangan yang benar-benar menyentuhnya.
Dari sudut ruangan, seseorang berdiri, langkahnya berat dan penuh kepastian di atas lantai marmer, gaung sepatu kulitnya berdentum pelan di telinga Wening seperti hitungan mundur. Wisnu—adik mendiang Arya—melangkah mendekat dengan senyum tipis yang lebih mirip seringai daripada simpati.
"Kau harus paham posisimu, Wening," katanya, suaranya rendah namun cukup keras untuk didengar seisi ruangan. "Kakakku sudah tiada. Dan trah ini tidak akan membiarkan darah Kalingga dibesarkan oleh orang luar, sebaik apa pun niatmu."
"Kirana anak saya." Wening menatapnya lurus, tak mau kalah meski suaranya bergetar. "Bukan aset trah."
"Kirana," Wisnu mengulang nama itu dengan nada mengejek, "adalah pewaris. Dan pewaris butuh dibesarkan dengan cara yang benar."
Wening merasa lantai di bawah kakinya seolah bergoyang. Ia menoleh ke Kirana yang kini menangis pelan, wajah kecilnya menunduk, tangan mungilnya mencengkeram ujung baju ibunya seperti tak mau lepas walau dunia runtuh. Naluri Wening berteriak: lari, bawa anaknya keluar dari ruangan ini sekarang juga. Tapi ia tahu, di rumah ini, di antara dinding-dinding berukir dan lantai marmer dingin ini, kekuatan hukum adat trah lebih besar dari sekadar naluri seorang ibu.
Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, merasakan udara dingin ruangan itu memenuhi paru-parunya, lalu berkata dengan suara yang berhasil ia jaga agar tidak lagi bergetar, "Kalau begitu, saya minta salinan dokumen adat yang jadi dasar keputusan ini. Itu hak saya."
Hening sejenak. Beberapa tetua saling pandang, seolah permintaan itu tak terduga. Eyang Putri akhirnya mengangguk pelan, memberi isyarat pada seorang pelayan tua untuk mengambilkan map cokelat dari lemari kayu di sudut ruangan. Suara engsel lemari yang berderit tua terdengar begitu keras di tengah keheningan itu.
Map itu diletakkan di depan Wening. Tangannya gemetar saat membukanya. Ia membaca cepat, matanya menyisir tiap baris, tiap paragraf yang penuh istilah adat yang rumit. Lalu, di sudut kanan bawah halaman kedua, matanya berhenti.
Ada sesuatu yang janggal.
Tanggal itu—tulisannya sedikit berbeda tintanya dari baris-baris lain di atasnya, seperti ditambahkan belakangan. Jantung Wening berdegup lebih cepat. Ia tidak bisa memastikan sekarang, di tengah ruangan penuh mata yang mengawasi, tapi insting seorang pengacara dalam dirinya—insting yang selama ini ia gunakan untuk membela klien-kliennya di pengadilan—berteriak bahwa ada yang tidak beres.
Ia harus menyimpan bukti ini. Diam-diam.
Dengan gerakan sekecil mungkin, seolah hanya membetulkan posisi map di pangkuannya, Wening menggeser ponselnya yang tersembunyi di balik lengan bajunya, mengarahkan kamera, dan menekan tombol jepret dua kali—satu untuk halaman kedua yang mencurigakan itu, satu lagi untuk halaman sebelumnya sebagai pembanding. Suara jepretan ia matikan lebih dulu. Tangannya berkeringat, jantungnya berdegup kencang seperti akan meledak, tapi wajahnya ia jaga tetap datar, matanya sesekali melirik ke arah tetua-tetua yang untungnya masih sibuk berbisik satu sama lain.
"Sudah cukup?" tanya Eyang Putri, sedikit tak sabar.
"Sudah," jawab Wening, menutup map itu dan menyerahkannya kembali dengan gerakan setenang mungkin, meski jantungnya masih berdebar keras di balik dadanya.
Ia berdiri, menggandeng Kirana yang masih terisak, dan berjalan keluar dari ruang pusaka itu tanpa menoleh lagi ke arah para tetua. Namun di pintu, ia sempat menangkap tatapan Wisnu—tatapan yang penuh kemenangan, tapi juga, entah kenapa, sedikit gelisah.
Di dalam mobil, dengan Kirana yang akhirnya tertidur kelelahan menangis di kursi belakang, Wening mengeluarkan ponselnya. Ia membuka foto yang baru saja diambilnya, memperbesar gambar tanggal di sudut halaman itu. Lampu jalan yang berkelebat di luar kaca mobil memantul samar di layar ponselnya, membuatnya harus memiringkan layar beberapa kali agar bisa melihat jelas.
Tangannya membeku.
Ada yang salah. Ada yang sangat salah dengan dokumen itu—dan ia bertekad akan membongkarnya, apa pun risikonya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar