*Pssssssttt...*

Aku membuka mata lebar-lebar tepat saat Mas Yoyo mengecup keningku—detik pertama sebagai istri sah seorang lelaki yang kucintai sejak dua tahun lalu. Jantungku berdebar, tapi bukan karena romantis. Telingaku yakin barusan mendengar sesuatu bergerak di bawah ranjang.

"Mas, denger nggak?"

"Denger apa?" Mas Yoyo mengernyit, melepas jasnya, menggantungnya asal di kursi.

"Kayak... suara desisan gitu. Dari bawah."

"Mungkin AC-nya, Ras. Kamar ini baru dipakai lagi soalnya, biasanya emang ada suara-suara aneh dulu pas awal dinyalain."

Aku mengangguk, mencoba percaya, meski bulu di tengkukku sudah lebih dulu berdiri sebelum otakku sempat berpikir jernih. Aneh rasanya, ketegangan ini muncul di malam yang seharusnya paling kutunggu.

Aku selalu membayangkan malam pertamaku akan seperti di sinetron-sinetron yang dulu kutonton diam-diam bersama Ibu di depan televisi tabung kami yang gambarnya sering bersemut. Lampu temaram warna jingga, kelopak mawar bertaburan di atas seprai putih, dan mempelai lelaki menatap istrinya dengan mata penuh janji, seolah dunia berhenti berputar hanya untuk mereka berdua.

Kenyataannya, aku terlalu lelah untuk romantis apa pun—dan sekarang, ditambah rasa was-was yang tak masuk akal ini.

Resepsi tadi siang menyita seluruh tenagaku sampai ke tulang. Ratusan tamu berjubel, salaman yang tak putus-putus dari pagi sampai magrib, senyum yang kupaksakan sampai otot pipiku terasa kaku. Belum lagi sanggul berat di kepalaku yang baru dilepas satu jam lalu, meninggalkan pusing samar di pelipis.

"Capek banget ya?" Mas Yoyo tersenyum, melepas dasinya pelan-pelan, lalu duduk di tepi ranjang sambil membuka satu per satu kancing kemejanya.

"Capek banget, Mas," jawabku sambil tertawa kecil, jatuh terduduk di sisi lain ranjang. "Tapi seneng. Beneran seneng."

Ia mendekat, tangannya menangkup pipiku dengan hati-hati seolah aku sesuatu yang mudah pecah, dan untuk sesaat aku nyaris melupakan suara aneh tadi.

Lalu suara itu terdengar lagi.

*Pssssssttt... pssssssttt...*

Degh!

Jantungku berdebar keras, memukul dari dalam dadaku sendiri. Aku turun dari ranjang, telapak kakiku menyentuh lantai kayu yang dingin, berjongkok pelan-pelan, mengintip ke kolong.

Gelap pekat.

Tak ada apa-apa yang bisa kulihat.

"Ngapain sih, Ras?" Mas Yoyo menahan tawa, "Kayak nyari kucing aja kamu."

"Aku serius, Mas. Suaranya jelas banget tadi, kayak ada yang gerak."

Ia ikut berjongkok di sampingku, menyalakan senter di ponselnya, menyorotkan cahaya putih ke kolong ranjang. Debu tipis melayang pelan tersapu cahaya. Kosong. Hanya sepasang sandalku yang belum sempat kurapikan dan satu kardus kecil berisi sisa dekorasi kamar.

"Nih, kosong kan?" katanya sambil bangkit, mengibaskan debu dari lututnya. "Mungkin kamu kecapekan aja, Ras. Kebanyakan mikir sampe kedengeran suara-suara. Ayo tidur, besok kita masih harus foto-foto sama keluarga lagi pagi-pagi."

Aku mengangguk, meski hatiku belum sepenuhnya tenang. Kami berbaring berdampingan, lampu tidur kecil di sudut ruangan menjadi satu-satunya sumber cahaya. Mas Yoyo memelukku dari samping, hidungnya menyusup di rambutku, dan dalam hitungan menit napasnya sudah teratur, tanda ia tertidur lelap, seolah tak ada apa pun yang terjadi malam ini.

Aku tidak.

Aku menatap langit-langit kamar yang asing ini—kamar lama Mas Yoyo di rumah ibunya, yang sengaja dirapikan ulang untuk kami tempati sementara sebelum punya rumah sendiri. Bau cat baru masih tercium samar, bercampur aroma kembang tujuh rupa yang entah kenapa masih disebar di sudut-sudut ruangan meski acara sudah selesai sejak siang tadi—Bu Sulastri sendiri yang bersikeras menyebarnya, katanya "biar rezekinya lancar."

Aku mulai terlelap juga, perlahan, kelopak mataku semakin berat, saat sesuatu membuatku kembali membuka mata lebar-lebar.

Bukan suara.

Rasa.

Seperti ada yang menyentuh betisku dari balik selimut. Dingin. Licin. Bergerak sangat pelan, seolah sengaja tak ingin membangunkanku.

Aku menahan napas, tak berani bergerak sedikit pun. Perlahan aku menarik selimut, menunduk pelan-pelan melihat ke bawah, jantungku bertalu-talu di telinga.

Tidak ada apa-apa di kakiku.

Tapi saat aku menoleh ke bantal di sampingku—jantungku serasa berhenti berdetak selama satu detik penuh.

Di sana, tergeletak begitu saja di atas kain putih bersih tempat kepalaku bersandar tadi, sehelai sisik mengilap sebesar kuku jempol. Warnanya cokelat kehitaman, memantulkan cahaya lampu tidur yang redup dengan kilau yang aneh, seolah masih basah.

Aku ingin berteriak. Tapi suaraku tersangkut di tenggorokan, seolah dicekik sesuatu yang tak kasat mata.

Ya Allah, apa ini?

Dengan tangan gemetar, aku mengambil sisik itu, menaruhnya di telapak tanganku, mengamatinya dari dekat di bawah cahaya lampu tidur. Permukaannya keras dan berkilau, ujungnya sedikit tajam kalau disentuh. Bukan mainan plastik, bukan hiasan dekorasi kamar yang mungkin terselip. Ini benda asli, benda yang seharusnya menempel di tubuh makhluk hidup.

Aku menoleh ke arah Mas Yoyo, ragu apakah harus membangunkannya lagi. Tapi melihat wajahnya yang begitu damai dalam tidur, aku mengurungkan niat itu. Aku tak ingin dianggap berlebihan di malam pertama pernikahan kami, tak ingin kesan pertamaku sebagai istri adalah perempuan yang gampang panik karena hal-hal kecil.

Aku bangkit pelan-pelan, berjalan jinjit menuju meja rias di sudut kamar, membuka laci paling bawah, dan meletakkan sisik itu di sana, dibungkus tisu seadanya. Entah kenapa insting menyuruhku menyimpannya, bukan membuangnya—seolah ada bagian dari diriku yang sudah tahu benda itu akan berguna suatu saat nanti.

Aku kembali ke ranjang, merebahkan diri pelan-pelan agar tak membangunkan Mas Yoyo. Mataku menatap langit-langit kamar yang temaram, pikiranku berkelana ke mana-mana. Mungkin benar kata Mas Yoyo, aku terlalu kecapekan, terlalu banyak berpikir setelah hari yang panjang dan melelahkan. Tapi bagian dalam diriku, bagian yang selama ini selalu kupercaya sejak kecil, mengatakan sebaliknya.

Ibuku dulu sering bilang, perempuan punya insting yang jarang salah, hanya sering diabaikan karena dianggap berlebihan. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak menikah, aku mulai belajar untuk tidak mengabaikan instingku sendiri.

Aku memejamkan mata, mencoba tidur, tapi telingaku tetap siaga, menunggu apakah desisan itu akan kembali terdengar. Rumah ini sunyi sekali malam itu—terlalu sunyi, seolah bahkan jangkrik di luar sana enggan bersuara, seolah seluruh alam ikut menahan napas bersamaku.

Dan begitulah malam pertamaku sebagai istri berakhir—bukan dengan kehangatan yang kubayangkan, melainkan dengan mataku terjaga penuh, menatap kolong ranjang yang gelap dan pintu kamar yang tertutup rapat, sampai azan subuh akhirnya berkumandang dari kejauhan, membawa sedikit ketenangan yang kucari-cari sepanjang malam.

Begitu suara azan mereda, aku memaksakan diri bangkit, berwudhu di kamar mandi kecil yang menempel di kamar kami, membiarkan air dingin membasuh wajah dan sedikit menenangkan pikiranku yang masih berkecamuk. Aku menatap pantulan wajahku sendiri di cermin—mata sembab karena kurang tidur, tapi juga sesuatu yang lain, semacam kewaspadaan baru yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Selesai salat subuh, aku duduk sebentar di atas sajadah, mencoba mendengarkan suara-suara pagi yang mulai muncul dari luar—kokok ayam tetangga, suara sapu lidi menggesek halaman, langkah kaki asisten rumah tangga yang mulai bersiap menyiapkan sarapan. Semua suara itu terasa begitu normal, begitu jauh dari desisan yang kudengar semalam, seolah rumah ini punya dua wajah—satu yang ramah di siang hari, satu lagi yang menyimpan sesuatu begitu malam turun.

Aku kembali ke ranjang sebentar, menatap Mas Yoyo yang masih terlelap, wajahnya begitu damai, begitu tak berdosa. Aku mengelus rambutnya pelan, mencoba meyakinkan diri bahwa semua ketakutan semalam hanyalah efek kelelahan dan kecemasan pengantin baru yang wajar. Tapi jauh di dalam hati, bagian diriku yang sama sekali tak bisa dibohongi itu, tetap menyimpan firasat bahwa malam ini baru permulaan dari sesuatu yang jauh lebih besar.